Koneksi Antar Materi Modul 3.1.a.9: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran (Rindha Julia-CGP Angkatan 4)
Assalammu’alaikum
Sobat Guru,
Perkenalkan nama
saya Rindha Julia, CGP Angkatan 4 dari Kabupaten Pati.
Pada kesempatan
kali ini, saya akan menulis tentang koneksi antar materi modul 3.1 yaitu
tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Selamat membaca. 😄
- Bagaimana pandangan Ki Hajar
Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap
bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin
pembelajaran diambil?
Pandangan Ki Hadjar Dewantara dengan Filosofi Pratap Triloka
meliputi ing ngarso sung tuladha, ing
madya mangun karsa, Tut wuri Handayani, Arti dari ketiga semboyan tersebut
adalah di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi/dorongan, di
belakang memberi dukungan. Itu merupakan tugas pendidik sebagai pamong murid
dalam pembelajaran. Pendidik di depan senantiasa memberi teladan dalam
pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Pendidik mempunyai
kewenangan untuk mengambil keputusan secara adil dan bijaksana sesuai dengan
kebutuhan murid di kelas. Pendidik juga memberikan motivasi kepada murid untuk
mengambil keputusan secara individu atau secara kelompok, tentunya dengan
memperhatikan 4 paradigma pengambilan
keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema, dan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan. Selain itu, pendidik sebagai pamong juga bisa
memantau dari belakang (tut wuri handayani) dengan mengamati perilaku murid
dalam pengambilan keputusan yang tepat dan mampu mempertanggungjawabkan
keputusannya tersebut.
- Bagaimana nilai-nilai yang
tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita
ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Setiap manusia pasti mempunyai nilai yang tertanam
dalam diri. Tergantung bagaimana seseorang mengembangkan nilai-nilai tersebut.
Nilai-nilai yang dimiliki oleh pendidik penggerak adalah mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut sangat
berpengaruh terhadap keputusan yang kita ambil. Jika nilai-nilai tersebut
secara konsisten digunakan dalam pengambilan keputusan, maka keputusan yang
dihasilkan akan lebih bermakna.
Dalam pengambilan keputusan yang berpihak kepada
murid, ada 3 prinsip pengambilan keputusan, yaitu:
a) Berpikir berbasis hasil akhir (end based
thinking)
b) Berpikir berbasis peraturan (rule
based thinking)
c) Berpikir berbasis rasa peduli (care
based thinking)
- Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
- Bagaimana kemampuan pendidik
dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh
terhadap pengambilan keputusan?
Dalam proses pembelajaran, pendidik harus pandai dalam mengelola aspek sosial dan emosional agar mampu mengambil keputusan yang bijak sesuai dengan kebutuhan murid. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfullnes). Pendidik juga bisa menerapkan tekhnik STOP (Stop, Taking a deep breath, Observe and Proceed) sebelum mengambil keputusan, tentunya hal ini dilakukan setelah 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang meliputi menentukan nilai-nilai yang bertentangan dari situasi yang sedang kita hadapi, menentukan siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan terkait dengan situasi yang sudah dihadapi, melakukan uji benar dan salah (yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji instuisi, uji publikasi, dan uji panutan), menentukan paradigma benar lawan benar yang terkait dengan situasi yang sedang kita hadapi, melakukan prinsip resolusi, investigasi Opsi Trilema, membuat keputusan , melihat lagi keputusan dan merefleksikan keputusan yang sudah kita ambil.
- Bagaimana pembahasan studi
kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai
yang dianut seorang pendidik?
Seorang pendidik harus mengidentifikasi sebuah studi
kasus, apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Setelah mengetahui
jenis studi kasus, pendidik bisa melakukan langkah-langkah selanjutnya yang
disesuaikan dengan studi kasus yang dihadapi. Nilai-nilai yang sudah dimiliki
oleh seorang pendidik yang meliputi mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif
dan berpihak pada murid (atau nilai yang lainnya) akan menjadi pondasi yang
kuat dalam pengambilan keputusan
sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari. Pendidik yang menjunjung
nilai-nilai tersebut akan mempunyai prinsip untuk mengedepankan kepentingan
bersama dalam pengambilan keputusan.
- Bagaimana pengambilan keputusan
yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman?
Pengambilan keputusan yang tepat dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali terlebih dulu kasus yang terjadi apakah kasus tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika kasus tersebut merupakan dilema etika, kita bisa menerapkan pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip penyelesaian dilema, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga hasil keputusan yang kita ambil mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Jika kasus yang dihadapi adalah bujukan moral, berarti kita harus memutuskan hal yang benar atau tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang telah berkembang di masyarakat.
- Selanjutnya, apakah
kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini?
Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Dalam pengambilan keputusan, tentunya ada serangkaian proses yang harus dijalani.
Kesulitan-kesulitan yang saya hadapi di lingkungan adalah tentang sudut pandang
yang berbeda-beda dari masing-masing individu. Kita tidak bisa memaksakan
kehendak kita kepada orang lain. Kita juga tidak bisa memaksa orang lain
mempunyai mindset yang sama dengan mindset kita. Sehingga perlu diskusi
dari hati ke hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini demi menghasilkan
keputusan yang tepat.
- Dan pada akhirnya, apakah pengaruh
pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang
memerdekakan murid-murid kita?
Pendidik seharusnya bisa membuat keputusan yang
bersifat tepat agar membuat siswa merasa nyaman dan senang (student well-being).
Tujuan dari pengambilan keputusan tersebut adalah untuk memerdekakan murid dalam
mencapai keselamatan dan kebahagiaan di masa depan (sesuai dengan filosofi
pendidikan Ki Hadjar Dewantara). Saat ini dikenal dengan ‘merdeka belajar’ yang
telah digagas oleh Pak Nadiem Makarim selaku Menteri Kemendikbud Indonesia. Apalagi
sekarang muncul kurikulum merdeka yang nantinya akan benar-benar memerdekakan
pendidik dan murid.
- Bagaimana seorang pemimpin
pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau
masa depan murid-muridnya?
Pemimpin pembelajaran yang visioner mempunyai gagasan
yang cemerlang sebagai latar belakang dalam pengambilan keputusan. Biasanya
keputusan yang diambil bisa disebut sebagai unpredictable
decission karena pemimpin yang visioner akan berani menanggung segala
resiko yang akan terjadi setelah pengambilan keputusan. Hal itu dapat menjadi
inspirasi bagi murid-murid sehingga mereka terdorong untuk berani dalam mengambil
keputusan.
- Apakah kesimpulan akhir yang
dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya
dengan modul-modul sebelumnya?
·
Filosofi Pratap
Triloka yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara mengajarkan pendidik dalam
mendampingi murid dalam pengambilan keputusan.
·
Nilai-nilai
guru penggerak merupakan nilai-nilai yang positif sehingga hal tersebut menjadi
pondasi yang cukup kuat dalam setiap pengambilan keputusan.
·
Pendekatan coaching
menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai
tujuannya yaitu merdeka belajar dan berani mengambil keputusan.
·
Pembelajaran
sosial dan emosional juga diperlukan dalam beberapa langkah pengambilan dan
pengujian keputusan.
·
Dalam
pengambilan keputusan diperlukan kesadaran penuh (mindfullnes) agar menghasilkan keputusan yang tepat dan sesuai
harapan.

.png)
Comments
Post a Comment